Menyiapkan Teknologi AWD untuk Padi di Lahan Tercekam Salin Kalimantan Barat
Kalimantan Barat, 10–15 Agustus 2026 — Langkah nyata menuju pertanian yang lebih produktif, efisien, dan rendah emisi terus dilakukan melalui Project Competitive Grant (CG) ICARE dengan judul “Peningkatan Produktivitas Padi Sawah Tercekam Salin berbasis IGT dengan Teknologi AWD mendukung Pertanian Rendah Emisi.” Kegiatan yang dipimpin oleh Setiyo Purwanto ini diawali dengan koordinasi bersama Kepala BRMP Kalimantan Barat selaku Project Implementing Unit (PIU) ICARE Kalimantan Barat dalam rangka menyamakan langkah dan memastikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan survei calon lokasi lahan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang akan digunakan untuk implementasi teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD). Survei dilakukan dengan mengamati kondisi biofisik lahan termasuk pengambilan sampel tanah yang selanjutnya akan dianalisis untuk mengetahui klasifikasi tanah, karakteristik kimia, serta kandungan mineral di dalam tanah.
Selanjutnya dilakukan survei hidrologi untuk memastikan ketersediaan air di lokasi. Tidak berhenti pada survei biofisik lahan dan hidrologi, tim juga melakukan koordinasi dengan pemilik lahan dan korporasi petani di calon lokasi sebagai bagian dari proses penyiapan lokasi implementasi.
Rangkaian survei ini dilakukan untuk menentukan kesesuaian lokasi agar teknologi yang diterapkan nantinya benar-benar tepat sasaran dan sesuai dengan output yang diharapkan dari project ini. Data hasil survei dan analisis tersebut menjadi fondasi penting untuk memahami kondisi calon lokasi secara menyeluruh, khususnya dalam mengidentifikasi karakteristik lahan dan lingkungannya serta aspek sosial-ekonomi. Dengan dukungan data lapangan yang akurat, penerapan teknologi AWD diharapkan dapat dirancang secara lebih tepat dan berbasis data.
Melalui CG ICARE, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan pendekatan budidaya padi yang lebih hemat air, adaptif terhadap kondisi lingkungan, serta berkontribusi terhadap upaya mitigasi emisi, tanpa mengesampingkan karakteristik dan kebutuhan spesifik lahan di Kalimantan Barat.